Senin, 19 Juni 2017

Tentang diri

Stop berbicara tentang dia, dia yang sudah menikmati setiap detik hidupnya. ^_^
Kali ini, saya ingin mengetik. Mengetik rangkaian huruf untuk menjadikan nya kata dan kalimat yang walaupun tak berarti tapi meninggalkan kesan disini.
Hidup cuman sekali, setiap detiknya kita berkesempatan untuk berbuat dosa sedang kematian beriringan dengan kesempatan itu. Kenapa selalu ada masa ketika iman di nomor kesekian kan sedang dosa tetap saja mengungguli akal sehat dan mengabaikan iman. Terkadang saya berpikir, mungkin enak kali yah kalau saja sy jadi pengelana waktu yang bisa step back untuk mengingatkan diri agar tidak menyia meyiakan hidup dengan hal hal yang menomor satukan duniawi sedang akhirat urusan belakangan. 
Astagfirullah, semoga kedepannya kesalahan terminimalisir dan diri tetap istiqomah untuk menjadi baik. Walaupun saya tau, ada saja ganjalan untuk kendur dari ke-istiqomahan tapi kenapa tidak saya mencoba untuk perlahan menapaki bebatuan yang mencoba mengelincirkan keistiqomahan saya? Fight for may way. Semoga Allah senantiasa memberikan hidayah pada hamba. Aamiin Ya Rabb.

Senin, 22 Mei 2017

Dia

Ada masa ketika kita merasa sangat lucu dengan diri sendiri karena mengulik kembali hari kemarin. Ya, entah saya memang rindu atau karena pagi tadi secara tidak sengaja saya melihat sebuah nama yang masih familiar dengan memory saya. Anehnya lagi setelah sekian lama mmm about almost 4 years kita lost contact sama sekali, saya masih mengingat jejak malam itu. Malam di mana semua di pertanyakan dan menyisakan kekecewaan disini. Seandainya saja dia mengerti kenapa saya memilih untuk menjauh. Seandainya saja dia mengerti kenapa saya tidak pernah memberikan jawaban yang jelas sebelum sebelumnya.

Iris Flower

I'm here for answering. 
Dia sudah tau bagaimana saya ke dia. Yang buat saya kecewa dan membuat saya memilih menjauh, dia tidak pernah sekalipun berinisiatif bertanya "kenapa"? He just accept every single word i had said. Saya memilih menjauh, bukannya saya tidak yakin dengan pernyataannya dia. Apa dia pernha bertanya sama hati kecilnya sendiri? Kenapa dia harus memilih saya untuk pernyataan itu? Bukannya dia menanyakan pernyataan hanya untuk meyakinkan dirinya saja? Terus buat apa saya menjawab pernyataan itu? Dia pun tidak tahu menahu dengan inginnya.

Pernah satu waktu, karena keisengan saya, saya mengirimkan fake app just for joke. Dari situ saya yakin dengan segala kadaan dan rasa yang terlibat. Selang beberapa waktu dia sadar kalo hasil dari app itu akan masuk ke email saya. Dia pun sepertinya cepat tanggap dengan reaksi saya. Ntah beberapa lama setelah nya, he asking something to me. Jelas lah saya mau jawab apa. Bahkan untuk beberapa tahun setelahnya, dia bertanya dengan hal yang sama yang jelas jelas sudah mengusik saya. Tidak semudah itu, mungkin seiring berjalannya waku kita bisa membuat pernyataan yang sama. Tapi bagaimana dengan kepercayaan? Sulit bagi saya untuk membangun kepercayaan dari titik -. Maaf, even saya sangat suka every moment that we had together tapi saya lebih memilih menjauh agar kita tidak saling menyakiti lebih dan lebih lagi.

Selamat berbahagia dear, semoga kita mendapatkan yang terbaik buat kita. Aamiin
Psss terkadang saya rindu dengan bercandaan kita via telephone. *thats all about distance*
I will be missing you, baik baik yah di sana. Sekali lagi, berbahagia lah ^^